sivalintar   Teman Dekat Kala Gelisah



Gangguan Afektif
Depresi dan Gangguan Bipolar



www.watchtower.org

"Satu-satunya hal yang konsisten tentang gangguan bipolar adalah bahwa itu tidak pernah konsisten."
















"Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama."—dr. Francis Mark Mondimore

Gangguan Bipolar—Selalu berubah-ubah

"Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu."—Gloria

DEPRESI KLINIS memang penuh tantangan. Namun, sewaktu ditambah lagi dengan mania, hasilnya disebut gangguan bipolar.4 "Satu-satunya hal yang konsisten tentang gangguan bipolar adalah bahwa itu tidak pernah konsisten." kata seorang penderita bernama Lucia. Selama mania, kata The Harvard Mental Health Letter, pasien bipolar "dapat sangat suka ikut campur dan mendominasi. Dan euporia mereka yang sembarangan dan tidak bisa diam bisa tiba-tiba berubah menjadi kekesalan atau kemarahan".

Lenore mengingat pengalamanya sewaktu dilanda mania. "Saya memiliki energi yang meluap-luap," katanya. "Banyak orang menjuluki saya wanita super. Orang bilang, 'Seandainya saya bisa seperti kamu'. Saya sering merasa sangat kuat, seolah-olah saya dapat melakukan apa saja. Saya melakukan kegiatan harian dan hanya sedikit tidur—dua atau tiga jam semalam. Namun saya bangun dengan tingkat energi yang sama tingginya."

Tetapi, pada waktunya, awan hitam mulai merundung Lenore. "Di puncak euporia saya," katanya, "saya merasakan gejolak jatuh di dalam diri saya, bagaikan mesin yang tidak bisa dimatikan. Tiba-tiba suasana hati saya yang menyenangkan menjadi agresif dan destruktif. Saya melancarkan serangan verbal terhadap seorang anggota keluarga tanpa alasan. Saya marah, benci, dan benar-benar tak terkendali. Setelah memperlihatkan perilaku yang menakutkan ini, saya tiba-tiba merasa lelah, ingin menangis dan sangat depresi. Di pihak lain, saya bisa berubah lagi ke diri saya yang sangat ceria itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Perilaku yang tidak karuan akibat gangguan bipolar ini merupakan sumber kebingungan bagi para anggota keluarga. Mary, yang suaminya menderita gangguan bipolar, menyatakan, "Bingung rasanya melihat suami saya yang bahagia dan senang bicara kemudian tiba-tiba menjadi putus asa dan pendiam. Kami benar-benar berjuang untuk menerima fakta bahwa ia tidak sanggup mengendalikan hal ini.

Ironisnya, gangguan bipolar sering kali sama menyusahkanya—bagi sang penderita. "Saya iri pada orang-orang yang punya keseimbangan dan kestabilan dalam kehidupan mereka," kata seorang pasien bipolar bernama Gloria. "Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu."

Apa penyebab gangguan bipolar? Salah satunya adalah faktor genetis—yang lebih kuat dari pada faktor depresi. "Menurut beberapa kajian ilmiah," kata Ikatan Dokter Amerika, "anggota keluarga dekat—orang tua, kakak, adik, atau anak-anak—dari penderita depresi bipolar lebih cenderung mengalami penyakit ini 8 hingga 18 kali daripada anggota keluarga dekat dari orang yang sehat. Selain itu, memiliki seorang anggota keluarga dekat yang menderita depresi bipolar dapat membuat Anda lebih rentan terkena depresi mayor."

Kontras dengan depresi, gangguan bipolar tampaknya menyerang pria dan wanita dalam jumlah yang sama. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan bahkan anak-anak. Meskipun demikian, menganalisis gejalanya dan menarik kesimpulan yang benar dapat sangat sulit bahkan bagi seorang pakar medis. "Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama," tulis dr. Francis Mark Mondimore dari Fakultas Kedokteran di Jhons Hopkins University.

"Ia bagaikan siluman yang dapat menyelinap mendatangi korbanya dengan berjubahkan gelapnya kesedihan tetapi kemudian menghilang selama bertahun-tahun—lantas datang kembali dengan berjubahkan mania yang terang-benderang tetapi berapi-api."

Jelaslah, gangguan afektif sulit didiagnosis dan bahkan dapat lebih sulit lagi bagi penderitanya. Tetapi ada harapan bagi para penderita.

4 Para dokter melaporkan bahwa setiap suasana hati sering bertahan selama berbulan-bulan. Namun, kata mereka, beberapa "pasien bersiklus cepat" berubah-ubah antara depresi dan mania beberapa kali pertahun. Dalam kasus yang langka, para penderita berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lain dalam waktu 24 jam.



    Home   |  < Kembali   |  lanjutkan >>