Make your own free website on Tripod.com





Bambang Haryanto


Siapa Bambang Haryanto (BH)?

Kesan saya, saat pertama kali bertemu dan ngobrol denganya, BH adalah pria nyentrik namun rapi. punya sense of humour tinggi, berpengetahuan dan berwawasan luas namun ramah dan rendah hati.



-Komentar
-Baca Komentar





























































Membaca dan Who Wants To Be A Millionaire

Oleh : Bambang Haryanto



HADIAH 500 JUTA. Orang Wonogiri yang ngetop di bulan April 2005 adalah Agustinus Misyadi. Ia seorang loper koran di Jakarta, yang baru saja memenangkan hadiah 500 Juta Rupiah dari kontes Who Wants To Be A Millionaire di stasiun televisi swasta RCTI.

Prestasi Agus yang membanggakan warga Wonogiri, termasuk diri saya yang juga wong Wonogiri ini. Koran-koran setempat segera melacak asal-usul Agus di Wonogiri, lalu menemukan rumah orang tuanya yang sederhana, di Giriwoyo, Wonogiri. Kota kecamatan ini bila diukur dari tempat saya, di Wonogiri Kota, adalah ke arah selatan sekitar 60-an km lagi.

Keberhasilan Agus dalam kontes tersebut, tentu saja, merupakan buah dari kegemarannya membaca.

OLAHRAGA BAGI OTAK. Begitu pentingkah membaca, selain sebagai modal untuk memenangkan kontes seperti yang Agus nikmati saat ini ? Kita simak pendapat di bawah ini :

Richard Steele (1672-1729), dramawan dan esais kelahiran Irlandia pernah menyimpulkan, "reading is to the mind what exercise is to the body." Membaca bagi otak adalah seperti halnya olahraga untuk tubuh.

William Shenstone (1714-63), penyair dan esais Inggris pernah menulis, "the world may be divided into people that read, people that write, people that think, and fox-hunters ". Dunia ini mungkin terbagi atas orang-orang yang membaca, orang yang menulis, orang yang berpikir dan para pemburu rubah.

Dramawan komedi Perancis, Molière (1622-1673), pernah bilang bahwa "Les livres cadrent mal avec le mariage". Membaca dan perkawinan itu tidak bisa serasi bersamaan.

Benyamin Franklin (1706-90), politisi, penemu dan ilmuwan Amerika, berkata : "If a man empties his purse into his head no one can take it away from him. An investment in knowledge always pays the best interest". Apabila seseorang mengosongkan isi dompetnya untuk mengisi kepalanya, maka tak seorang pun mampu mengambilnya dari dirinya. Berinvestasi dalam bentuk pengetahuan selalu memberikan bunga yang terbaik.

Membaca itu penting, tetapi orang mengartikan kegiatan membaca secara beragam. Ada orang yang membaca surat kabar setiap pagi, dtetapi sorenya sudah melupakan apa yang ia baca. Ada pelajar dan mahasiswa yang terpaksa membaca-baca buku pelajaran, tetapi hal itu mereka lakukan untuk menghadapi ujian atau ulangan. Beberapa saat kemudian, semuanya itu mudah saja dilupakan.

Idealnya, agar apa-apa saja yang kita baca tidak mudah terlupakan, maka sebaiknyalah intisari dari apa yang kita baca itu kita tuliskan. Saat duduk di bangku SMP Negeri I Wonogiri, kelas 1, saya pernah terpergok mencontek. Beberapa jawaban yang diperkirakan muncul dalam ulangan, saya tulis di telapak tangan kiri saya. Ketika ulangan, ternyata saya harus lebih banyak bersibuk memerangi ketakutan bila ketahuan, sehingga perubahan muka atau gerak-gerik saya itu menarik guru saya, Pak Sutomo, saat itu. Saya pun ketahuan !

Sejak saat itu, pola belajar hal-hal yang berupa hafalan saya ganti. Hampir semua isi buku pelajaran saya tulis kembali, dengan tulisan tangan sendiri, yang isinya berupa pertanyaan dan pertanyaan. Kemudian dalam belajar, saya harus menjawab semua pertanyaan tersebut. Dengan menuliskannya, saya mengawetkan materi pelajaran dalam otak saya. Aktivitas sejak di SMP itulah yang turut membekali kegemaran saya menulis hingga saat ini.

Memanglah, inilah berkah otomatis dari menulis : ilmu atau pengetahuan yang baru kita tuliskan segera semakin menjadi milik pribadi kita. Pengetahuan itu lebih dalam membekas pada memori kita, dibanding bila kita hanya membacanya.

Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E - U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda - Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa.

Gunakan info yang sama lewat cara yang berbeda-beda, sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.

Bagaimana kalau kita usul kepada Agus Misyadi : maukah dia, dengan ditopang hadiah ratusan juta itu, meluangkan waktu dan perhatiannya untuk menuliskan biografinya dalam sebuah buku ? Yang berisi pergulatan dirinya dalam mengeduk manfaat membaca hingga mampu memenangkan kuis berhadiah ratusan juta itu ?



Wonogiri, 8 Mei 2005


    [ Kembali ]