Keyakinan-Keyakinan "Aneh"



Dihalaman ini akan aku jelaskan secara khusus dan lebih detail tentang keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar yang aku rasakan.


Keyakinan-keyakinan aneh itu kebanyakan berhubungan dengan masalah-masalah agama. Semua itu mungkin ada hubungannya dengan materi pelajaran agama (islam) yang aku pelajari di sekolah. Karena sekolahku adalah sekolah swasta islam, otomatis porsi mata pelajaran agamanya lebih banyak dan lebih mendalam dibanding sekolah umum. Selain itu di sekolahku juga diterapkan —walaupun tidak terlampau ketat—aturan, norma dan etika pergaulan antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru, yang mengacu pada syariat islam.
Contoh misalnya: setiap siswi diwajibkan memakai jilbab, semua siswa dan siswi diwajibkan mengikuti sholat Dzuhur berjamaah di mesjid sekolah. Dalam etika pergaulan, setiap siswa diwajibkan mengucapkan salam keagamaan saat keluar masuk kelas atau ruang guru, juga dianjurkan cium tangan jika bertemu atau mengahadap guru. Dengan penerapan syariat islam, nuansa religius sangat terasa di lingkungan sekolahku.
Lalu, apa kaitanya suasana religius serta materi pelajaran agama di sekolah dengan munculnya keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar yang aku rasakan?

Sudah aku jelaskan sebelum ini, aku kadang menafsirkan segala sesuatu yang aku lihat, aku dengar atau aku pelajari secara berlebihan atau terlalu polos. Nah, seperti itu pula saat aku menafsirkan materi-materi pelajaran agama yang aku pelajaridi sekolah. Sementara itu, dasar pengetahuan, pemahaman dan wawasan agamaku masih sangat dangkal. Selain itu, lingkup pergaulanku juga masih sangat terbatas. Interaksi antara hal-hal tersebut di atas, melahirkan sebuah penafsiran dan pengamalan ajaran agama yang sempit, dangkal, kaku dan cenderung fanatik. Padahal penafsiran ajaran agama yang sangat kompleks itu membutuhkan pemahaman dan wawasan agama yang luas dan mendalam.

Apa yang aku coba jelaskan di atas adalah kemungkinan penyebab munculnya keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar yang berhubungan dengan masalah agama. Namun, yang aku jelaskan tadi adalah sebab-sebab logis dan rasional yang bisa terjadi pada siapa saja. Dalam kasusku sebab-sebab itu hanya merupakan penyebab relatif, penyebab sesungguhnya adalah gangguan kejiwaan (depresi) yang aku derita. Karena keyakinan-keyakinan itu belum pernah aku rasakan sebelumnya dan baru muncul setelah aku menderita depresi. Jadi masalah-masalah agama hanya merupakan obyek pemikirannya saja yang bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarku.

Agar lebih jelas, di bawah ini akan aku ceritakan beberapa contoh kasus keyakinan-keyakinan irasional yang paling sering aku rasakan, selama aku mengarungi alam depresi yang menakutkan dan mengerikan.

Kasus pertama adalah "Perasaan Berdosa yang Berlebihan". Perasaan berdosa atas suatu perbuatan yang telah dilakukan, baik kepada tuhan maupun kepada sesama manusia. Perasaan berdosa yang tak wajar ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Silahkan Anda simak ceritanya dan perhatikan detailnya.


  • "Domba dan Ubi"

    Sepulang sekolah seperti biasa aku pergi menggembala domba. Saat aku sedang asyik membaca buku sambil menunggui domba-dombaku merumput, tanpa aku ketahui beberapa beberapa ekor domba nyelonong ke arah kebun ubi dan melahap daun-daun ubi muda yang hijau menggoda. Saat aku tahu, segera aku halau domba-dombaku menjauh dari kebun ubi tersebut. Aku lihat bekasnya, cukup banyak daun-daun ubi yang dimakan sang domba nakal itu. Beberapa saat setelah kejadian itu munculah keyakinan-keyakinan aneh itu. Aku berpikir begini: "Gara-gara aku lengah, domba-dombaku telah memakan dan merusak kebun ubi milik orang lain. Aku berdosa merusak milik orang lain." Sambil menggembala aku terus memikirkan kejadian itu. Perasaan berdosa terus-menerus menggangu dan menghantui pikiranku. Karena perasaan berdosa itu terus menghantui pikiranku, aku putuskan akan menemui pemilik kebun untuk meminta maaf.

    Pemikiran yang tidak wajar dan berlebihan bukan?

    Sore hari, sepulang menggembala aku menemui si pemilik kebun ubi yang masih tetangga dekat sekampung. Rumahnya hanya terhalang beberapa rumah dari rumahku. Dengan malu dan gugup, aku ceritakan kejadiannya dan aku sampaikan permintaan maaf atas kelalaianku. Sang pemilik kebun ubi (seorang perempuan tua) hanya tersenyum sambil berkata setengah bercanda, "Makanya kalau menggembala dombanya dijagain ya, jangan teledor." Aku hanya mengangguk malu, lalu pulang dengan perasaan lega.

    Begitulah ceritanya, bagaimana menurut penilaian Anda?


  • "Sebutir Durian Jatuh"

    Seperti biasa suatu hari aku sedang mengiring domba-dombaku menyusuri jalan setapak menuju padang gembalaan. Saat melewati sebatang pohon durian besar, hidungku mencium sesuatu, bau durian matang. Aku lihat sekeliling pohon durian, ternyata penciumanku tak salah, tak jauh dari pohonnya tergeletak sebutir durian yang jatuh dari pohonya. Tanpa pikir panjang aku ambil lalu aku kupas durian matang itu, sebagian aku makan dan sebagian lagi aku simpan untuk dibawa pulang. Saat aku memakan durian itu, aku tak berpikir apa-apa. Namun tak lama kemudian, munculah keyakinan aneh itu. Aku ingat materi pelajaran agama di sekolah yang membahas tentang mengambil milik oang lain tanpa izin. Menurut ajaran islam, jangankan mencuri (mengambil dari pohonnya) memungut buah yang jatuh dari pohonya pun, jika tanpa izin pemiliknya sudah tidak boleh, haram hukumnya. Aku berpikir, "Ya Tuhan, aku berdosa telah mengambil dan memakan buah durian milik orang lain tanpa izin."

    Perasaan berdosa itu terus-menerus menggangu pikiranku. Akhirnya aku putuskan menemui pemilik pohon durian itu, untuk meminta izin dan memohon maaf. Sepulang menggembala aku segera menuju rumah pemilik pohon durian itu (orang terkaya di kampungku yang terkenal sangat pelit). Sesampai di rumahnya, aku hanya menemui istrinya, seorang perempuan tua berbadan gemuk, berusia sekitar 60-an tahun lebih. Langsung saja aku ceritakan kejadianya dan aku sampaikan permohonan maafku padanya. Ternyata ia bisa mengerti dan memaafkanku. Malah saat aku pamit pulang ia memberiku sebutir lagi durian matang. Aku pulang dengan perasaan lega, lepas dan rasa berdosa.


Selain dua contoh kasus perasaan berdosa tadi, ada kasus lain yang agak berbeda tapi masih berhubungan dengan masalah agama. Obyek pemikiranya berbeda namun polanya hampir sama.


  • "Hari Kiamat akan Segera Tiba"

    Dalam ajaran Islam—juga dalam ajaran agama lain—ada penjelasan tentang akan datangnya akhir dunia atau hari kiamat, saat alam semesta hancur atas kehendakNya. Didalam Al-Qur'an (kitab suci umat islam), tercantum mengenai tanda-tanda akan datangnya hari kiamat. Namun, tidak dijelaskan kapan (hari, tanggal, bulan dan tahun) akhir dunia itu akan terjadi. Aku sering mendengar dan membaca tentang kiamat tersebut dari kitab suci, ceramah para kiyai dan dari buku-buku agama yang aku baca.

    Tapi entah mengapa, tiba-tiba aku takut sekali, jangan-jangan kiamat akan segera tiba. Atau jangan-jangan akan terjadi besok atau lusa. Keyakinan yang gila! Keyakinan yang membuatku sangat takut ini terus-menerus menghantui pikiranku.

    Saat bangun pagi hari, aku ssering cemas. Aku lihat dari arah mana matahari terbit, karena salah satu tanda akan datangnya hari kiamat adalah matahari terbit dari arah barat, bukan dari timur seperti biasanya. Jika langit gelap terhalang mendung yang hitam pekat, dihiasi kilatan halilintar dan gelegarnya petir, aku juga cemas dan takut, jangan-jangan hari kiamat akan segera tiba.

    Coba Anda bayangkan, jika Anda takut dunia ini akan hancur, siapa yang bisa Anda mintai tolong? Kecuali Tuhan, tidak ada bukan? Tak ada tempat untuk lari, tak ada tempat berlindung atau bersembunyi. Rasa takut yang tak ada 'obatnya'. Seperti itulah kira-kira rasa takut yang aku rasakan. Takut pada keyakinan-keyakinanku sendiri yang tak rasional. Tapi apa yang aku takuti seperti nyata. Anda bisa membayangkan rasa cemas dan takut yang aku rasakan? Mengerikan menurutku.


Ada lagi keyakinan tak waras yang akan aku jelaskan, masih soal agama. Topik keyakinannya berbeda tapi polanya masih sama.

Dalam ajaran Islam, anjing—termasuk juga babi—merupakan binatang najis. Dagingnya haram dimakan dan jilatannya dianggap najis (kotoran yang harus dibersihkan sesuai syariat islam). Jika seorang muslim dijilat anjing, maka bekas jilatanya harus dicuci tujuh kali dan air yang pertama harus dicampur dengan tanah sebagai media pembersih (semacam sabun cuci), baru najisnya dianggap bersih. Kalau tidak dicuci sesuai syariat, maka ibadah orang tersebut tidak syah karena badanya kotor oleh najis.

Sekarang yang menjadi obyek keyakinan tak waras itu soal najis jilatan anjing. Masalah sebenarnya bukan pada jilatan anjingnya, tapi kekhawatiran yang berlebihan terhadap najis itu. Agar lebih jelas, silahkan simak kisahnya.

  • "Jilatan Anjing yang Menakutkan"

    Aku sering merasa khawatir, sandal atau sepatu yang aku simpan di depan rumah dijilat anjing tanpa setahuku. Jika kebetulan aku melihat ada anjing berkeliaran di halaman rumah, aku selalu menganggap anjing itu (pasti) telah menjilat sandal dan sepatuku.

    Keyakinan tak waras itu begitu kuat, seakan-akan anjing itu memang betul telah menjilat sandalku. Pikiran warasku menolak keyakinan itu, "Anjing itu mungkin hanya lewat dan sama sekali tak menyentuh sandalku." Terjadilah tarik-menarik, adu argumentasi antara keyakinan waras dan keyakinan tak waras. Tapi akhirnya keyakinan tak waras yang lebih kuat mengalahkan keyakinan waras. Terpaksa aku harus mencuci sandal itu dengan air dicampur sebanyak tujuh kali.

    Kejadian di atas mungkin masih masuk akal, karena aku melihat sendiri anjingnya berkeliaran di sekitar tempat itu. Jadi, memang ada kemungkinan anjing itu menjilat sandalku.
    Ada kejadian yang lebih tidak masuk akal. Silahkan simak ceritanya.

  • "Anjing itu Menjilat Cucianku"

    Aku biasa mencuci pakaian di sumur sawah atau di sumur pompa. Pagi itu aku mencuci di sumur pompa umum yang lokasinya hanya terhalang beberapa rumah dari rumahku. Sumur pompa yang sudah mulai rusak itu hanya menggunakan dinding pelindung berupa bilik bambu, pada salah satu sisinya yang menghadap ke jalan raya. Sedang sisi lainya dibiarkan terbuka tanpa bilik pelindung. Saat itu aku mencuci sendirian, tak ada seorang pun yang mencuci atau mandi di sana.

    Selesai mencuci aku pulang dulu mengantarkan air untuk ibuku memasak, sedangkan cucian aku tinggalkan di sumur. Saat aku kembali ke sumur, keyakinan aneh itu muncul, "Jangan-jangan saat aku pulang tadi ada anjing kesini dan menjilat cucianku." Padahal di sekitar sumur itu tak terlihat anjing berkeliaran. Tapi keyakinan itu terus memaksaku, bahwa cucian itu (pasti) telah dijilat anjing saat ditinggal pulang tadi. Pikiran rasionalku sama sekali tak berkutik. Seperti biasa, terpaksa aku harus mencuci kembali sebagian pakaian (terutama yang di bagaian paling atas ember) yang sudah aku cuci bersih tadi.

    Coba Anda bayangkan, betapa repotnya aku harus mencuci pakaian yang sudah dicuci bersih dengan air yang dicampur tanah! Kejadian seperti ini terjadi berkali-kali.
    Ada cerita lain yang lebih tidak masuk akal lagi!



  • "Rumput itu Dijilat Anjing"

    Suatu hari, saat aku sedang menyabit rumput di kebun, terasa ada cipratan air dari rumput itu ke tanganku. Lagi-lagi munculah keyakinan aneh itu, jangan-jangan air tadi, air liur atau air kencing anjing. Di sekitar tempat itu aku sama sekali tak melihat anjing berkeliaran, bahkan jejaknya pun tak terlihat. Tapi, lagi-lagi akal sehatku tak berkutik, tunduk pada keyakinan tak warasku. Aku dipaksa untuk meyakini bahwa cipratan air itu air liur atau air kencing anjing. Padahal bisa saja air itu cuma air embun yang mengendap misalnya. Dan seperti biasa, karena akal sehatku kalah, aku harus mencuci bekas cipratan air itu—yang entah air apa— sebanyak tujuh kali dicampur dengan tanah. Benar-benar gila bukan?!

Itulah beberapa contoh keyakinan-keyakinan aneh dan tak wajar, diantara bermacam-macam keyakinan aneh yang aku rasakan. keyakinan-keyakinan itu sangat menyiksa pikiranku dan membebani serta mengganggu aktivitas sehari-hariku di sekolah, di rumah dan di mana pun aku berada. Keyakinan-keyakinan itu seakan-akan selalu mengawasi dan menguntitku kemanapun aku pergi. Menekan dan memaksaku mengikuti segala keinginanya.

Kadang aku merasa seperti dibelenggu, dengan todongan pistol di kepala yang siap deledakan jika aku tidak menuruti keyakinanya. Gilanya lagi, aku tak kuasa menolak atau melawan. Aku selalu menuruti keyakinan-keyakinan tak waras itu, walaupun aku tahu keyakinan itu salah. Aku juga tak bisa lari atau bersembunyi darinya.

Semakin aku pikirkan keyakinan-keyakinan itu semakin membuatku cemas. Kadang aku merasa seperti berada di dunia lain yang asing, sepi dan sunyi. Di sana tak ada seorang pun yang bisa memahami aku dan bisa aku mintai tolong. Yang ada hanya rasa cemas dan takut.

Diantara bermacam-macam keyakinan aneh dan irasional yang berkecamuk dalam pikiranku, ada satu keyakinan yang paling menakutkan dan menyiksa pikiranku, Keyakinan yang "meragukan kehadiran Tuhan!"
Selengkapnya, silahkan lanjutkan halaman berikutnya.



  Pengalamanku   |  lanjutkan >>
[ 7-a1 ]