Naskah tulisan dibawah ini aku kutip dari tulisan Dr. H. M. Surya, berjudul: Depresi Terselubung dan Peranan Keluarga, yang dimuat di majalah Suara Daerah tahun 1988.
Dari artikel inilah pertama kali aku tahu bahwa apa yang aku rasakan selama ini adalah gejala depresi terselubung.




Depresi Terselubung



Istilah depresi terselubung telah banyak digunakan untuk menunjukan satu pola perilaku tertentu yang dinilai mempunyai kaitan dengan berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Para individu yang dianggap mendapat gangguan depresi terselubung sering mendapat kesulitan dalam perilaku kehidupannya. Gangguan ini tidak hanya menghambat diri yang bersangkutan saja, akan tetapi secara tidak langsung dapat mengganggu kehidupan lingkungan. Dalam kadar tertentu gejala depresi terselubung banyak dihadapi oleh berbagai pihak baik disadari atau tidak, dan pada umunya tidak disadari oleh yang bersangkutan. Dengan demikian maka masalah depresi terselubung dapat dikatakan sebagai masalah semua pihak dan harus mendapat perhatian untuk pencegahan atau penanggulangan. Setiap individu seyogyanya mengenal akan gejala-gejala itu dan berupaya mencegah atau mengatasinya.

Istilah depresi digunakan untuk menamai suatu bentuk gejala gangguan mental yang ditandai dengan penekanan perasaan yang amat mendalam. Sebenarnya depresi sudah tergolong kepada gejala gangguan mental yang patologis, yang berartisudah menderita sakit jiwa dan memerlukan upaya penggulangan yang serius. Para penderita depresi bisanya sudah tidak mampu lagi mengendalikan perilaku dan kepribadiannya dan bahkan sudah berada dalam situasi alam kehidupan yang berbeda dengan orang-orang normal. Suasana emosional yang tertekan secara mendalam membuat sikapnya yang pasif dan tidak mempunyai arah yang jelas dalam perilakunya. Segala rangsangan yang diterimanya senantiasa menghasilkan respon yang tidak semestinya. Ia selalu merasakan dirinya dalam keadaan tertekan dan hal ini berkaitan dengan gejala-gejala lainnya baik fisik, maupun kepribadian secara keseluruhan.

Telah dikatakan bahwa depresi merupakan penderitaan dari orang-orang yang tergolong terganggu jiwanya secara patologis, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak pula orang-orang yang normal yang menunjukan gajala-gejala seperti yang ditunjukan oleh penderita depresi. Jadi, orang yang bersangkutan sebenarnya normal dalam arti tidak menunjukan gejala kelainan jiwa, akan tetapi dalam kadar tertentu menunjukan perilaku yang bersifat depresif. Gejala depresinya tidak nampak penuh akan tetapi terselubung atau tersembunyi dalam keseluruhan perilaku normalnya. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa depresi terselubung merupakan gejala perasaan tertekan dalam diri orang-orang yang secara keseluruhan tergolong normal. Meskipun terjadi pada orang-orang normal, akan tetapi rasa tertekan ini akan mempengaruhi keseluruhan perilakunya. Bila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka penampilan kepribadiannya pun akan mengalami gangguan dan bukan mustahil dapat menjadi depresi yang sebenarnya. Sudah tentu keadaan ini amat kurang menguntungan bagi perkembangan diri yang bersangkutan dan orang-orang lain di sekitarnya. Dan dalam konteks yang lebih luas dapat berpengaruh kepada kehidupan masyarakat secara keseluruhan.


Beberapa Contoh Gejala

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai banyak manifestasi perilaku para anggota keluarga yang merupakan gejala depresi terselubung. Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh.

Tuan A (51 th) seorang pegawai negeri di suatu instansi, sudah lama merasakan kegelisahan dan rasa cemas yang tidak jelas alasannya. Akhir-akhir ini ia sering marah-marah kepada istrinya maupun kepada anak-anak, nafsu makan menurun, tidak betah di rumah dan tidak dapat tidur dengan baik. Kalau ditanya apa alasannya, Tuan A tidak dapat menjelaskan secara pasti. Dalam empat tahun lagi Tuan A akan pensiun dan enam orang anaknya masih sekolah pada beberapa sekolah negeri dan swasta.

Nyonya B (48 th) adalah istri dari seorang pimpinan suatu perusahaan swasta yang boleh dikatakan cukup maju. Akhir-akhir ini sering mengeluh merasa pusing kepala, tidak ada nafsu makan, susah tidur, dsb. Ia diliputi perasaan was-was pada saat menjelang suaminya pulang dari tempat kerjanya. "Sesungguhnya suamiku sangat mencintaiku, akan tetapi entah apa aku selalu cemas, sedih dan khawatir", kata Nyonya B.

ZK (23 th) adalah seorang mahasiswa tingkat akhir dari suatu perguruan tinggi di Bandung. Semenjak ibunya meninggal dunia karena penyakit kanker kandungan, ia selalu tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, susah tidur, dan selalu ingin pergi tanpa tujuan yang jelas. Yang aneh adalah dia selalu sulit berkomunikasi dengan ayahnya meskipun dulunya ia selalu dekat. Ia merasa canggung atau segan untuk mendekati apalagi berbicara atau bercanda seperti dulu.

Pak M (31 th) seorang guru SD di desa Gunung Salju, selalu merasa diliputi rasa berdosa tanpa alasan yang jelas. Setiap kali berjumpa dengan murid, dengan guru lain, atau Kepala Sekolah, jantungnya berdebar dan diliputi rasa sedih yang mendalam. Kadang-kadang tanpa disadari air matanya menetes, apalagi kalau sedang sendirian. Kalau pulang ke rumah, perasaan itu makin menjadi tatkala bertemu dengan istrinya.

Contoh-contoh di atas hanyalah merupakan sebagian kecil ilustrasi gejala depresi terselubung. Dari contoh di atas, semua gejala akan mengalir ke dalam keluarga meskipun sebabnya berasal dari luar.


Gejala-gejala yang Nampak

Adanya depresi terselubung akan dapat diperkirakan melalui gejala-gejala yang nampak dalam berbagai aspek kepribadian.
  • Dalam aspek emosionalnya penderita menunjukan gejala-gejala sebagai berikut :
    • Diliputi perasaan sedih yang terus menerus dan tanpa alasan yang jelas.
    • Selalu cemas dalam menghadapi berbagai hal.
    • Rasa berdosa, dari segala perbuatan-perbuatan yang selalu dilakukannya.
    • Marah-marah yang tidak jelas arah dan alasannya.
    • Suasana batin yang kurang menentu dan tidak tenteram.

  • Dalam aspek fisik penderita akan menunjukan gejala-gejala antara lain :
    • Mengalami gangguan tidur, misalnya sukar tidur, diganggu oleh mimpi-mimpi buruk dan sebagainya.
    • Kehilangan nafsu makan, tanpa alasan yang jelas.
    • Karena kurang nafsu makan, maka berat badan cenderung menurun.
    • Badan selalu terasa lemah, kurang bergairah, tak bertenaga dan sebagainya.
    • Mudah lelah dalam melakukan kegiatan-kegiatan fisik.
    • Sembelit, yaitu susah buang air besar (berak).
    • Menstruasi yang tidak teratur (pada wanita).
    • Lemah syahwat (impotensi) pada pria, dan frigiditas pada wanita.
    • Berkurangnya dorongan seks.

  • Dalam perilaku motoriknya nampak gejala-gejala :
    • Menangis yang kurang jelas alasannya dan sering dilakukan.
    • Lamban dalam tindakan-tindakannya.
    • Berusaha menghindar terhadap berbagai rangsangan.
    • Selalu gelisah dan tidak tahu arah dan tindakan secara jelas.
    • Gangguan halusinasi yaitu mengamati (mendengar, melihat, meraba, dan sebagainya) sesuatu tanpa kehadiran objeknya.

  • Pada aspek kognitifnya penderita mendapat gangguan-gangguan dalam pengenalan baik terhadap dirinya mau pun lingkungan. Gejala yang nampak antara lain :
    • Konsep diri yang negatif.
    • Memiliki pandangan yang negatif terhadap dunia luar.
    • Cenderung mengutuk diri sendiri.
    • Mengritik diri sendiri.
    • Ragu-ragu dalam membuat keputusan.
    • Tidak berdaya dan putus asa terhadap masa depannya.
    • Memandang diri sendiri tidak berharga.
    • Diliputi oleh keyakinan-keyakinan tertentu yang kurang masuk akal.
    • Harapan-harapan yang bersifat negatif.

Dengan gejala-gejala di atas, maka kehidupan sosial penderita akan mengalami gangguan pula. Misalnya berusaha menghindar dari pergaulan, merasa rendah diri, malu, kaku dan sebagainya.



Fhoto : www.bipolarfocus.com



  Pengalamanku   |  lanjutkan >>
[ 7-b1 ]