Sebab-sebab Depresi Terselubung

Sebab-sebab timbulnya depresi terselubung pada seorang individu dapat bersumber pada berbagai latar belakang yang bersifat psikologis, sosiologis, biologis, dan spiritual. Semua hal itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Secara terinci sebab-sebab itu dapat dikemukan sebagai berikut :
  • Serara psikologis depresi terjadi karena interaksi antara peristiwa yang terjadi tiba-tiba dan menekan, dengan beberapa ciri pribadi yang kurang memadai.

    Peristiwa yang tiba-tiba dan menekan antara lain berupa :
    • Kegagalan dalam mencapai tujuan.
    • Kehilangan sesuatu yang paling di cintai.
    • Ketegangan yang datang dari lingkungan.
    • Kritikan-kritikan dari pihak lain.
    • Ancaman dari lingkungan atau pihak lain.
    • Paksaan untuk melakukan suatu tindakan.

  • Hal-hal di atas dapat menjadi sumber depresi apabila berinteraksi dengan ciri-ciri kepribadian yang kurang memadai misalnya:
    • Ketergantungan pada pihak lain
    • Perasan rendah diri.
    • Sikap permusuhan.
    • Standar tinggi dalam pola hidup.
    • Kurang mantap dalam perkembangan.
    • Sikap iri hati pada pihak lain.
    • Kurang percaya diri.
    • Kurangnya rasa keagamaan.
    • Sikap curiga pada orang lain.

Dengan demikian, maka depresi terselubung ini merupakan reaksi dari kekurangan kepribadian dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan.

  • Secara sosial, depresi dapat terjadi karena kurangnya memiliki keterampilan sosial, yaitu keterampilan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain, kegagalan dalam berinteraksi dengan orang lain dapat menimbulkan rasa tertekan. Di samping itu keterpencilan sosial dapat pula menjadi sebab depresi terselubung. Misalnya berada di antara lingkungan sosial yang baru, dan belum mengenal seluk-beluk adat setempat membuat seseorang merasa terpencil, dan mengakibatkan ragu-ragu, rasa rendah diri, takut, cemas, dsb. Keterpencilan sosial banyak diderita oleh seseorang yang berada di lingkungan yang jauh dan segalanya serba asing, misalnya guru yang bertugas di desa terpencil yang jauh dari kampung halaman dan keluarganya.

  • Depresi dapat pula di sebabkan oleh adanya kelainan-kelainan biologis dalam diri seseorang, misalnya kelainan syaraf-syaraf, hormon-hormon, pertumbuhan, metabolisime tubuh, struktur tubuh, fungsi-fungsi organ tubuh, dsb. Misalnya orang yang proses pertumbuhannya kurang lancar dapat mengakibatkan adanya rasa harga diri kurang, menimbulkan rasa tertekan atau depresi. Demikian pula orang yang mengalami cacat tubuh, dapat terhambat dalam penampilan perilakunya dan selanjutnya dapat menakibatkan depresi pula.

  • Dari segi keagamaan (spiritual), depresi dapat terjadi karena rendahnya kadar kagamaan dalam diri seseorang. Orang yang kadar imannya atau ketakwaannya rendah, cenderung lebih mungkin menderita depresi karena kurangnya pegangan hidup. Tanpa pegangan hidup yang berupa kaidah-kaidah keagamaan, kehidupan seseorang akan terombang ambing tak menentu, dan dapat mengakibatkan kekurang-mampuan dalam menghadapi tantangan, sehingga dapat menimbulkan depresi. Sebab-sebab yang di kemukakan di atas saling berkaitan satu dengan lainnya, dan semuanya bermuara pada diri individu masing-masing.



Beberapa Upaya Penanggulangan

  • Lebih banyak melakukan berbagai aktivitas yang berguna, dengan melakuan hal ini, seseorang akan merasa puas dengan mendapatkan hasil yang berguna. Kegiatan yang di lakukan dan hasil yang di capai dapat mencegah atau memperbaiki keadaan depresi.
  • Melakukan kegiatan yang menyenangkan, rasa senang pada seseorang dapat memberikan kepuasan, dan dapat menguranggi perasaan-perasaan yang dapat mengarah ke suasana depresi.

  • Lebih banyak bertindak atas dasar penalaran (bersifat rasional) ketimbang atas dasar perasaan (bersifat emosional) tindakan yang terlalu emosional cenderung menghadapi kegagalan, dibanding dengan tindakan yang bersipat rasional. Dengan lebih memfungsikan rasio (penalaran), maka tindakan dapat lebih terarah dan realistis. Damikian pula sikap dalam menghadapi peristiwa yang menekan, hendaknya lebih bersipat rasional dan hindari sikap yang emosional.

  • Lebih meningkatkan kekuatan sendiri (ego strength) antara lain kekuatan dalam keterbukaan diri, pemahaman diri, penerimaan diri, dan kepercayaan diri. Dengan kata lain di harapkan seseorang hendaknya menjadi pribadi yang mandiri dalam berbagai aspek. Pribadi yang mandiri ditandai dengan penguasaan: kompetensi, konsistensi, kendali diri, kreativitas dan komitmen. semua itu dapat menjadi penangkal kemungkinan terjadinya depresi pada seseorang.

  • Meningkatkan penguasaan keterampilan-keterampilan sosial, yang meliputi keterampilan dalam berinteraksi dengan orang lain secara epektif memecahkan masalah-masalah kehidupan seperti mendapatkan pekerjaan, mengatur waktu, mengatur uang, mengelola keluarga, dsb. Dengan keterampilan sosial ini maka seseorang dapat dengan mudah berinteraksi dangan orang dan mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan secara efektif, hal-hal ini dapat mencegah adanya rasa keterpancilan sosial yang dapat menimbulkan depresi.

  • Meningkatkan keterampilan spiritual, atau lebih meningkatkan kadar kehidupan keagamaan dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, melalui pelaksanaan ibadah secara tepat, dapat membuat diri menjadi lebih tenteram dalam hidup. Keadaan itu dapat mencegah dan menyembuhkan depresi.

  • Meningkatkan keterampilan intelektual, dengan terus menerus menambah pengetahuan melalui berbagai kesempatan. Dengan banyak memiliki pengetahuan, maka individu dapat mengikuti perkembangan jaman, dapat bergaul dengan baik, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Dari upaya-upaya yang di sebutkan di atas, jelas keluarga khususnya kaum ibu mempunyai peranan yang amat besar. Ibu merupakan sumber cinta kasih bagi anak-anaknya dan terutama suaminya. Dengan kasih sayang, ibu dapat menciptakan suasana keluarga yang utuh dan sehat.


  



  Pengalamanku   |  < kembali
[ 7-b2 ]