Make your own free website on Tripod.com


Gangguan Afektif
Depresi dan Gangguan Bipolar

Jutaan orang di seluruh dunia menderita gangguan afektif —apakah gangguan bipolar atau suatu bentuk depresi klinis.







































"Orang yang depresi mengalami perasaan yang turun naik dan terus berubah-ubah seolah-olah ia berada dalam suatu kereta api yang tak terkendali tanpa tahu bagaimana atau kapan—atau bahkan apakah—ia dapat turun dari kereta itu."—Dr. Mitch Golant

Memahami Gangguan Afektif

Di seluruh dunia, depresi dan gangguan bipolar menyerang jutaan pria dan wanita. Bagaimana mereka dapat dibantu?

Pikiran
yang Tersiksa



www.watchtower.org

Nicole telah mengalami periode-periode suasana hati yang suram sejak ia berusia 14 tahun. Tetapi, pada usia 16 tahun, ia mulai mengalami sesuatu yang baru—keadaan euforia yang mengejutkan dan energi yang luar biasa tinggi. Gagasan yang berseliweran menyerbu benaknya, ucapan yang terbata-bata, dan kekurangan tidur disertai kecurigaan tak berdasar bahwa teman-temannya sedang memanfaatkan dia. Lantas, Nicole menyatakan bahwa ia dapat mengubah warna benda-banda sesuai dengan keinginnanya. Pada saat itulah, ibu Nicole sadar bahwa bantuan medis dibutuhkan, maka ia membawa Nicole ke rumah sakit. Setelah dengan cermat memonitor suasana hati Nicole yang berubah-ubah, para dokter akhirnya mencapai sebuah diagnosis: Nicole mengidap gangguan bipolar.1

Seperti Nicole, jutaan orang di seluruh dunia menderita gangguan afektif—apakah gangguan bipolar atau suatu bentuk depresi klinis. Dampak penyakit-penyakit ini dapat menghancurkan. "Selama bertahun-tahun saya sangat menderita," kata seorang pasien bipolar bernama steven. "Saya mengalami depresi yang mengerikan dan kemudian euforia yang berlebihan. Terapi dan pengobatan membantu, tetapi saya masih harus berjuang keras."

Apa penyebab gangguan afektif? Seperti apa rasanya diserang depresi atau gangguan bipolar? Bagaimana para penderita—dan orang-orang yang merawat mereka—dapat menerima dukungan yang dibutuhkan?


Hidup dengan
Gangguan Afektif


SUNGGUH mengkhawatirkan, gangguan afektif ternyata sangat umum. Misalnya, diperkirakan bahwa lebih dari 330 juta orang di seluruh dunia menderita depresi serius, suatu kondisi yang dicirikan oleh kesedihan yang luar biasa dan hilangnya kesenangan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Diperkirakan bahwa 20 tahun lagi, depresi akan berada cuma setingkat dibawah penyakit kardiovaskular. Tidak heran, ada yang menyebutnya "salesmanya penyakit mental".

Dalam tahun-tahun belakangan ini, gangguan bipolar telah mendapat lebih banyak perhatian publik. Gejala penyakit ini mencakup perubahan suasana hati yang parah, yang bolak-balik antara depresi dan mania.2 "Selama fase depresi," kata sebuah buku yang baru diterbitkan oleh Ikatan Dokter Amerika, "Anda mungkin dihantui oleh gagasan untuk bunuh diri. Selama fase mania penyakit Anda, penilaian Anda yang baik mungkin lenyap dan Anda mungkin tidak bisa melihat bahayanya tindakan Anda."

Gangguan bipolar mungkin mempengaruhi 2 persen penduduk Amerika Serikat, yang berarti ada jutaan penderita di negeri itu saja. Namun, angka saja tidak dapat melukiskan betapa tersiksanya hidup dengan gangguan afektif.


Depresi—Kesedihan yang Luar Biasa



www.watchtower.org

Kebanyakan dari kita tahu seperti apa rasanya sewaktu dilanda kesedihan. Pada waktunya—mungkin hanya dalam beberapa jam atau hari—perasaan tersebut surut. Namun, depresi klinis jauh lebih serius. Dengan cara bagaimana? "Bagi kita yang tidak depresi, kita tahu bahwa turun naiknya emosi kita akhirnya akan selesai," jelas Dr. Mitch Golant, "tetapi orang yang depresi mengalami perasaan yang turun naik dan terus berubah-ubah seolah-olah ia berada dalam suatu kereta api yang tak terkendali tanpa tahu bagaimana atau kapan—atau bahkan apakah—ia dapat turun dari kereta itu."

Ada banyak bentuk depresi klinis. Misalnya, beberapa orang mengidap apa yang disebut gangguan afektif musiman (seasonal affective disorder, atau SAD), yang muncul pada suatu periode tertentu dalam setahun—biasanya pada musim dingin.

Apa penyebab depresi klinis? Jawabanya tidak jelas.
Sementara dalam beberapa kasus tampaknya ada kaitan dengan gen, dalam kebanyakan kasus, pengalaman hidup tampaknya memainkan peranan yang penting. Hasil diagnosis juga memperlihatkan bahwa wanita dua kali lebih banyak menderita penyakit ini ketimbang pria. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa pria tidak terpengaruh. Sebaliknya, diperkirakan bahwa antara 5 dan 12 persen pria akan mengalami depresi klinis pada titik tertentu dalam kehidupanya.




Gejala
Depresi Mayor*

  • Suasana hati yang tertekan, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama sedikitnya dua minggu
  • Kehilangan minat pada kegiatan yang tadinya menyenangkan
  • Berat badan menurun atau bertambah secara signifikan
  • Tidur terlalu banyak atau sebaliknya, imsonia
  • Keterampilan motorik yang semakin cepat atau semakin lambat secara tidak normal
  • Keletihan yang berlebihan, tanpa sebab yang jelas
  • Perasaan tidak berharga dan/atau perasaan bersalah yang tidak pada tempatnya
  • Kesanggupan berkonsentrasi merosot
  • Sering terbersit gagasan untuk bunuh diri
    Beberapa gejala ini mungkin mengindikasikan distimia—depresi yang ringan tetapi lebih kronis
* Daftar ini disajikan sebagai gambaran umum dan bukan untuk menyediakan dasar guna mendiagnosis diri sendiri. Selain itu, beberapa dari gejala ini mungkin merupakan gejala problem lain di luar depresi.




Penyakit ini "mengguncang kita sampai sedalam-dalamnya", mengikis rasa percaya diri, harga diri, kesanggupan berpikir jernih dan membuat keputusan, lalu sewaktu sudah cukup dalam, ia menggencet kita dengan keras hanya untuk melihat apakah kita bisa bertahan." —Sheila












www.watchtower.org

Sewaktu depresi tipe ini menyerang, sifatnya sangat menyeluruh dan mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan seseorang. Penyakit ini "mengguncang kita sampai sedalam-dalamnya", kata seorang penderita bernama Sheila, "mengikis rasa percaya diri, harga diri, kesanggupan berpikir jernih dan membuat keputusan, lalu sewaktu sudah cukup dalam, ia menggencet kita dengan keras hanya untuk melihat apakah kita bisa bertahan."

Ada saat-saat manakala penderita dapat memperoleh banyak kelegaan dengan mencurahkan perasaannya kepada seorang pendengar yang berempati. Meskipun demikian, harus diakui bahwa sewaktu faktor biokimia tersangkut, depresi tidak dapat dihilangkan hanya dengan sudut pandang positif. Sesungguhnya, dalam kasus demikian, suasana hati yang suram akibat penyakit ini berada di luar kendali sang penderita. Selain itu, si penderita mungkin sama bingungnya terhadap kondisi ini seperti anggota keluarganya yang lain dan sahabat-sahabatnya.

Perhatikan Paula,3 seorang wanita Kristen yang bertahan menghadapi masa-masa kesedihan mendalam yang melumpuhkan sebelum depresinya terdiagnosis. "Kadang-kadang seusai perhimpunan Kristen," katanya, "saya bergegas ke mobil dan menangis tersedu-sedu, tanpa alasan sama sekali. Perasaan kesepian dan penderitaan yang luar biasa ini datang begitu saja. Meski semua bukti memperlihatkan bahwa saya punya banyak teman yang peduli kepada saya, saya tidak bisa melihatnya."

Hal yang serupa menimpa Ellen, yang depresinya mengharuskan ia diopname. "Saya punya dua putra, dua menantu yang menyenangkan, dan seorang suami—semuanya yang saya tahu sangat mengasihi saya," katanya. Menurut akal sehat, Ellen seharusnya merasa kehidupanya menyenangkan dan ia berharga bagi keluarganya. Namun, dalam peperangan melawan depresi, pikiran-pikiran yang negatif—tidak soal seberapa irasional—dapat membuat penderitanya kewalahan.

Yang tidak boleh diremehkan adalah dampak signifikan yang dapat diakibatkan oleh depresi seseorang terhadap keluarganya. "Sewaktu seseorang yang Anda kasihi mengalami depresi," tulis Dr. Golant, "Anda boleh dikatakan hidup dengan rasa tidak pasti yang kronis, tidak pernah benar-benar tahu kapan orang yang Anda kasihi akan pulih dari masa depresinya atau akan terserang depresi yang baru. Anda dapat merasa sangat kehilangan—bahkan pedih dan marah—karena kehidupan telah berubah dari yang normal, mungkin secara permanen."

Sering kali anak-anak bisa mendeteksi depresi orang tua. "Anak seorang ibu yang depresi menjadi sangat peka terhadap keadaan emosi sang ibu, dengan teliti mengamati setiap nuansa dan perubahan," tulis Dr. Golant. Dokter Carol Watkints mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya depresi "lebih cenderung punya masalah perilaku. Kesulitan belajar, dan masalah dengan teman-temannya. Mereka sendiri lebih cenderung menjadi depresi."


1 Juga disebut gangguan manik-depresif. Harap diperhatikan bahwa sebagian gejala ini dapat mengindikasikan skizoprenia, penyalahgunaan narkoba, atau bahkan penyesuaian diri remaja yang normal. Diagnosis hendaknya dibuat hanya setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh oleh seorang pakar yang cakap.

2 Mania adalah gejolak emosi yang dicirikan dengan tindakan hiperaktif, perilaku yang tidak menentu dan perasaan melambung.

3 Beberapa nama yang muncul dalam artikel ini telah diubah.

Topik Terkait :

Tulisan dengan topik bahasan
"Gangguan Afektif—Depresi dan Gangguan Bipolar"
ini dikutip dari Sedarlah! edisi 6 Januari 2004, halaman 3-13
dengan judul artikel "Memahami Gangguan Afektif".





    Home   |  lanjutkan >>